Melawan Patriarki Melalui Kritik Sastra, W Sanavero: “Saya hanya meluapkan apa yang menurut saya  tidak tepat saja.”

Dalam rangka peduli literasi dan melawan budaya patriarki, Suara Perempuan menyelenggarakan bedah buku. Dalam tema pemberantasan patriarki melalui literasi, W Sanavero di daulat menjadi salah satu penulis rebel yang berani membawa issue tabu tersebut. Diskusi yang dipimpin Hefsty Suud itu berlangsung sangat khidmat dan penuh antusias peserta.

Pada 05/08/2018 puluhan peserta memenuhi Waroeng Mbah Cokro untuk mengikuti diskusi bedah buku “Perempuan Yang Memesan Takdir”. Acara ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan minat membaca dan awarness terhadap buruknya budaya patriarki terhadap pola pikir masyarakat.  Sebagai pembedah Esthi Susanti berpendapat, bahwasanya ide

photo by salsabila

tulisan W Sanavero termasuk berani. “meskipun lebih dominan pada katarsis, namun buku ini cukup mewakili kondisi sosial yang sedang terjadi dan masih terjadi sampai sekarang” imbuhnya saat mengomentari isi buku.

Kegelisahan perempuan dalam buku Vero begitu ia biasa dipanggil, mewakili tiap perempuan yang masih mengalami subordinasi yang disebabkan oleh budaya patriarki. “saya hanya meluapkan apa yang menurut saya tidak tepat saja” jawab Vero ketika ia ditanya soal ide kepenulisannya. Konspirasi perempuan patuh kerap menjadi momok tersendiri antara perempuan dan kebebasan. Menurutnya Perempuan Yang Memesan Takdir adalah sebuah refleksi yang ditujukan untuk menghapus mitos perempuan idaman di mata masyarakat.

Perempuan masih dipenjarakan dengan standarisasi ideal, baik dari orang lain maupun dirinya sendiri. Keterlibatan dominasi ideologi agama juga menjadi salah satu penyebab utama patriarki bisa eksis sampai saat ini. Namun bukan berarti agama yang menyebabkan patriarki marak terjadi. “ada banyak sekali orang yang memanfaatkan agama menjadi salah satu alasan untuk melancarkan tindakan diskriminasi” komentar Esthi Susanti saat ditanya perihal relasitas ideologi agama dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan. “saya kira ini adalah issue yang lumayan sensitif, namun tidak menutup kemungkinan untuk bisa dikaji ulang berdasarkan bidang ilmu lain. Karena agama pada dasarnya memang mengajarkan pada kebaikan dan keadilan, termasuk keadilan terhadap perempuan” imbuhnya.

Pemberantasan budaya patriarki tidak lain hanyalah untuk mencapai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan bukan bentuk perlawanan terhadap gender tertentu, melainkan pencapaian keadilan untuk semua makhluk hidup, termasuk perempuan. Pencapaian tersebut sudah hadir kembali dalam ruang sastra.

 

 

Article written by adminwebsite

Suara Perempuan adalah sebuah komunitas yang mengambil fokus pada pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak dalam bidang pendidikan. Karena minimnya pendidikan yang didapat adalah sebuah muara dalam pelbagai kasus tindakan pelecehan, diskriminasi, hingga kriminalitas yang dialami oleh perempuan di Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *