Via Vallen Harus Didukung

Pelecehan adalah penyakit lingkungan yang terjadi karena kebiasaan dan pola pikir seseorang. Baik verbal maupun non verbal, tindakan tidak bermoril tersebut bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Dalam hal ini, kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan.

Kasus pelecehan kembali marak diperbincangkan. Pasalnya tindakan pelecehan baru-baru ini, menimpa salah satu artis kenamaan tanah air yakni Via Vallen. Pedangdut yang akrab dipanggil Via ini mendapatkan pesan berisi pelecehan melalui instagram. Dilansir dari tribunnews.com pelaku diduga pemain sepak bola ternama.

Menanggapi hal tersebut Via justru tak tinggal diam. Ia dengan berani menunjukkan isi  pesan melalu instastory miliknya. Tindakan gadis asal Sidoarjo ini tergolong tepat dan benar. Meskipun ada banyak stigma negatif yang menghampiri, namun sebagai public figure ia lantang untuk melawan pelecehan.

Tindakan pelecehan yang dialami Via Vallen bukan merupakan hal baru. Pelecehan serupa kerap dialami banyak perempuan diluar sana. Bukan hanya perempuan, laki-laki pun juga berpotensi mengalami pelecehan. Kurangnya edukasi terhadap masyarakat tentang pelecehan dan bagaimana seharusnya menanggapi korban menyebabkan penyakit ini terus bermunculan.

‘Pewajaran’ tindakan yang dilakukan pelaku terhadap korban berdasarkan gender, justru memperluas teritorial aksi pelecehan seksual. Tanpa kita sadari pembiaran dan diskriminasi justru akan menegakkan subordinat terhadap korban. Perlawanan terhadap subordinasi sudah terjadi berabad-abad yang lalu. Menjadi tidak masuk akal jika kita masih melontarkan pertanyaan apakah pelaku benar-benar salah?.

Perlawanan terhadap tindak pelecehan membutuhkan peran dari masyarakat luas. Sudah sepatutnya korban mendapatkan dukungan hingga pelecehan tak lagi dapat ruang. Tidak ada toleransi untuk tindak pelecehan. Via Vallen butuh dukungan, bukan cacian. Mendukungnya sama seperti menghantarkan payung teduh pada korban serupa.

Pelecehan adalah penyakit lingkungan yang terjadi karena kebiasaan dan pola pikir seseorang. Baik verbal maupun non verbal, tindakan tidak bermoril tersebut bisa terjadi kapanpun dan dimanapun. Dalam hal ini, kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan.

Kasus pelecehan kembali marak diperbincangkan. Pasalnya tindakan pelecehan baru-baru ini, menimpa salah satu artis kenamaan tanah air yakni Via Vallen. Pedangdut yang akrab dipanggil Via ini mendapatkan pesan berisi pelecehan melalui instagram. Dilansir dari tribunnews.com pelaku diduga pemain sepak bola ternama.

Menanggapi hal tersebut Via justru tak tinggal diam. Ia dengan berani menunjukkan isi  pesan melalu instastory miliknya. Tindakan gadis asal Sidoarjo ini tergolong tepat dan benar. Meskipun ada banyak stigma negatif yang menghampiri, namun sebagai public figure ia lantang untuk melawan pelecehan.

Tindakan pelecehan yang dialami Via Vallen bukan merupakan hal baru. Pelecehan serupa kerap dialami banyak perempuan diluar sana. Bukan hanya perempuan, laki-laki pun juga berpotensi mengalami pelecehan. Kurangnya edukasi terhadap masyarakat tentang pelecehan dan bagaimana seharusnya menanggapi korban menyebabkan penyakit ini terus bermunculan.

‘Pewajaran’ tindakan yang dilakukan pelaku terhadap korban berdasarkan gender, justru memperluas teritorial aksi pelecehan seksual. Tanpa kita sadari pembiaran dan diskriminasi justru akan menegakkan subordinat terhadap korban. Perlawanan terhadap subordinasi sudah terjadi berabad-abad yang lalu. Menjadi tidak masuk akal jika kita masih melontarkan pertanyaan apakah pelaku benar-benar salah?.

Perlawanan terhadap tindak pelecehan membutuhkan peran dari masyarakat luas. Sudah sepatutnya korban mendapatkan dukungan hingga pelecehan tak lagi dapat ruang. Tidak ada toleransi untuk tindak pelecehan. Via Vallen butuh dukungan, bukan cacian. Mendukungnya sama seperti menghantarkan payung teduh pada korban serupa.

picture by jawapos.com

Article written by adminwebsite

Suara Perempuan adalah sebuah komunitas yang mengambil fokus pada pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak dalam bidang pendidikan. Karena minimnya pendidikan yang didapat adalah sebuah muara dalam pelbagai kasus tindakan pelecehan, diskriminasi, hingga kriminalitas yang dialami oleh perempuan di Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *