Feminisme Bukan Pertarungan Gender

“Feminisme adalah Indonesia, ia tidak datang dari barat, tapi ia lahir dari rahim Indonesia, dari kebudayaan Indonesia yang menghargai perempuan sudah sejak lama,” kata Gadis Arivia. Menurutnya, feminisme sebagai sebuah gerakan atau ide yang lahir dan tetap hidup di tengah tumbuhnya konservatisme di nusantara.

Ia mengatakan, bagi generasi yang telah ikut dalam barisan perjuangan, perlu rasanya menyebarkan virus semangat aktivisme gerakan perempuan kepada para generasi muda. “Ditambah lagi, term gender tidak bisa digunakan lagi untuk memperjuangkan keadilan. Pengarusutamaan Gender (PUG) harus diakui, kita telah gagal, gender selama ini hanya berbicara pada ruang representasi komestik saja,” katanya.

Sehingga menurut pendiri Jurnal Perempuan ini, feminisme harus kita ucapkan sebagai upaya pembongkaran terhadap praktik ketidakadilan. “Dengan harapan wacana feminisme seharusnya bukanlah sesuatu yang asing lagi. Feminisme adalah tentang bagaimana membongkar ketidakadilan dan padagogi feminis adalah tentang bagaimana feminisme itu diajarkan di dalam maupun di luar kelas,” imbuhnya.

Jauh sebelum itu, paham akan feminisme tak hanya sekadar gender telah diyakini oleh seorang perempuan Indonesia yang hebat. Terlahir dari keluarga Sunda ternama R. Rangga Somanegara dan R. A. Rajapemas pada 4 Desember 1884, Dewi Sartika sejak kecil telah akrab dengan peran seorang guru ketika ia bermain dengan teman-temannya seusai sekolah.

Sepeninggal ayah tercinta, pada tahun 1899 ia berhijrah menuju Kota Bandung dan memutuskan tinggal bersama dengan sang paman. Dari sang paman-lah Sartika remaja mendapat pendidikan dengan budaya kental masyarakat Sunda. Meski sebelumnya, ia telah menerima pengetahuan mengenai budaya barat.

Seperti diketahui bersama, semasa pemerintahan kolonial Belanda, hanya kalangan masyarakat tertentu saja yang mendapat akses pendidikan di sekolah formal.

Di tengah R.A. Kartini sibuk berkirim surat dengan sahabat penanya, Dewi Sartika meyakini penindasan dan pelecehan yang dialami oleh kaumnya adalah berwal dari kualitas pendidikan yang diterima perempuan pada masa tersebut. Sehingga pada 16 Januari 1904, ia membulatkan tekad untuk membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung, yang dalam selang kurun enam tahun kemudian, sekolah yang ia dirikan direlokasi menuju Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Keoetamaan Isteri.

Dewi Sartika dan R. A. Kartini, adalah pejuang feminisme Indonesia yang mampu berjalan selaras dengan adat budaya serta keyakinan akan Ketuhanan yang dianut. Bila R. A. Kartini meninggalkan jejak perjuangan emansipasinya dalam sebuah bentuk buku, Dewi Sartika mewariskan perjuangannya dalam wujud sekolah yang masih berkembang hingga saat ini.

Mengutip karya buku ‘Biografi Pahlawan Nasional Raden Dewi Sartika: Sang Perintis’ karya Yan Daryono, bakat ilmu keguruan Dewi Sartika memang sudah terlihat sejak masih remaja. Karakter khasnya adalah, ia tak menunggu fasilitas yang memadai hanya untuk memulai aksinya.

Pada saat ibunda kembali ke Bandung tahun 1902, setelah dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda di Ternate, kesulitan hidup masih melilit kehidupan Dewi Sartika. Penyitaan seluruh harta benda yang dilakukan pemerintah kolonial saat itu, membuat sang ibu tak dapat berbuat banyak mengurus anak-anaknya secara layak. Di masa ketika itu, pemikiran orang masih berkutat bahwa perempuan memiliki kedudukan yang bergantung pada suami. Perlakuan yang berbeda juga dirasakan manakala pendidikan perempuan lebih rendah jika dibandingkan dengan pria.

Meski demikian, Dewi Sartika tak lantas menyerah pada keadaan. Ia justru mengajak turut serta saudara dan kerabatnya yang perempuan untuk belajar ketrampilan seperti memasak, menjahit, dan semacamnya. Tak hanya itu, ia juga mengajari kemampuan membaca dan menulis Bahasa Melayu dan Belanda, juga termasuk ilmu pengetahuan yang didapatkannya sewaktu bersekolah di Eerste Klasse School.

Lambat laun, semakin banyak saja yang menyatakan keminatan pada system pengajaran yang diterapkan oleh Dewi Sartika. Dari proses mengajar inilah, ia beserta ibunya mendapat bantuan bahan pokok seperti beras, garam, lauk-pauk, dan lain-lain untuk menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Tak pelak, kegiatan Dewi Sartika ternyata terendus juga oleh Inspektur Pengajaran Wilayah Kabupaten Bandung Cornelis Den Hammer. Melihat konsistensi sekolah miliknya, pria tersebut memberikan penawaran untuk menjadi seorang guru di Sekolah Boemi Poetra milik Belanda. Namun, Dewi Sartika dengan tegas menolak tawaran tersebut, ia juga sempat mengutarakan keinginannya kepada sang inspektur untuk mendirikan sekolah sendiri secara mandiri.

Gagasan tersebut juga yang membuat Dewi Sartika dipertemukan dengan Bupati Bandung saat itu yang dijabat oleh Raden Aria Adipati Martanegara. Sartika tak lantas takut dan surut, justru kesempatan ini ia manfaatkan untuk mendapat dukungan dari sang Bupati. Kian tahun berjalan, Sartika menyadari bahwa sekolah miliknya tak lagi mampu menampung seiring bertambahnya jumlah siswa yang mendaftar.

Dengan sedikit sisa tabungan yang ia miliki, digunakan membayar uang muka untuk membeli sebuah tempat di Ciguriangweg, serta Bupati R.A.A. Martanegara juga turut membantu dengan menyumbang pembayaran pembelian dan biaya pembangunan sekolah tersebut.

Atas kegigihan dan keyakinannya inilah, ia kemudan dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau pada tepat perayaan 35 tahun sekolah yang ia dirikan, kemudian pada 1 Desember 1966, Dewi Sartika diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Repubik Indonesia. (RERE/POUNDRA)

Article written by adminwebsite

Suara Perempuan adalah sebuah komunitas yang mengambil fokus pada pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak dalam bidang pendidikan. Karena minimnya pendidikan yang didapat adalah sebuah muara dalam pelbagai kasus tindakan pelecehan, diskriminasi, hingga kriminalitas yang dialami oleh perempuan di Indonesia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *